Selasa, 01 Mei 2018 18:45 WITA

Menpar Arief Tawarkan Pengembangan Nomadic Tourism di Gorontalo

Editor: Al Khoriah Etiek Nugraha
Menpar Arief Tawarkan Pengembangan Nomadic Tourism di Gorontalo
Menteri pariwisata, Arief yahya. int.

RAKYATKU.COM - Menteri pariwisata Arief Yahya menawarkan pengembangan pariwisata menggunakan nomadic tourism di Gorontalo. Hal ini melihat amenitas dan aksesibilitas terhadap destinasi wisata di Gorontalo merupakan gugusan pulau-pulau.

“Nomadic tourism sebagai solusi dalam mengatasi keterbatasan unsur amenitas yang sifatnya bisa dipindah-pindah dan bentuknya bermacam-macam, yaitu glamp camp, home pod, dan caravan, sedangkan sebagai aksesibilitasnya adalah sea plane, dengan mudah membawa wisatawan dari pulau ke pulau," kata Arief Yahya.  

Hal ini dilakukan Arief untuk mendongkrak wisatawan di Gorontalo yang terbilang minim. Tahun 2017 lalu, Gorontalo baru dapat menarik 8 ribu wisman, sedangkan sang tetangga, Sulawesi Utara, sudah mencapai sekitar 24 ribu wisman, atau tiga kali lipatnya, kedepan akan dapat menarik lebih banyak, khususnya dari China yang tahun lalu 

“Provinsi Gorontalo harus bisa menempatkan sebagai secondary destination untuk menarik wisman dari China. Dengan cara ini kunjungan wisman ke Gorontalo akan meningkat tajam,” kata Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, yang dikutip dari website Kemenpar.

Arief Yahya menambahkan, Gorontalo bisa mengambil contoh yang dilakukan oleh destinasi Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menempatkan sebagai secondary destination terhadap Bali, sehingga kunjungan wisman ke Lombok melonjak tajam mencapai 1 juta wisman, dan Lombok kini berkembang sebagai destinasi ‘Halal Tourism’ kelas dunia.

"Terus terang, 17 event yang dimiliki Gorontalo sangat sedikit," kata  Arief.

Sementara itu, Gubernur Gorontalo, H Rusli Habibie mengatakan, Provinsi Golontalo berusaha mengembangkan sektor pariwisata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sayangnya masih terkendala dengan infrstruktur penunjang.

”Dalam mengembangkan sektor pariwisata kami masih mengalami kendala infrastruktur,” kata  Rusli Habibie.