Minggu, 04 Maret 2018 17:49 WITA

Tugu Kunstkring Paleis, Menu Makanan ala Penjajah Belanda

Editor: Adil Patawai Anar
Tugu Kunstkring Paleis, Menu Makanan ala Penjajah Belanda

RAKYATKU.COM - Penasaran seperti apa kemewahan jamuan makan di zaman kolonial tempo dulu? Tugu Kunstkring dapat menjawab semuanya. 

Terletak di Jalan Teuku Umar Menteng, terdapat restoran klasik dan megah bernama Tugu Kunstkring Paleis. Dilihat dari bahasa Belanda, arti kata Kunstkring adalah lingkaran seni.  

Dilansir detik, bangunan ini sudah mengalami beberapa kali perubahan fungsi. Pada tahun 1950 sampai dengan 1993 ini merupakan gedung imigrasi. Kemudian pada tahun 2008 menjadi Budha Bar, tapi hanya bertahan setahun karena kontroversi.  

Kemudian saat ini menjadi Tugu Kunstkring Palace yang merupakan restoran berkonsep gallery seni, berdiri sejak 2013. Gedung ini masih menjadi milik Pemerintah DKI Jakarta.  

Karena diimbau untuk dialihkan fungsinya menjadi gallery seni, maka kemudian diserahkan kepada Manajemen Hotel Tugu untuk mengelola, yaitu bernama Anhar Setjadibrata selaku pendiri Group Hotel Tugu dan Restoran. Dengan syarat tetap menjaga keaslian dan keasrian bangunannya, tidak boleh ada perubahan bentuk. 

Tugu Kunstkring Paleis menyediakan pengalaman makan yang berbeda dengan restoran-restoran lain. Interior ini dipenuhi oleh koleksi seni selera tinggi dan antik warisan keluarga besar raja gula Oei Tiong Ham.  

Terdiri dari dua lantai, dengan dominasi warna hitam, emas dan merah. Setiap ruangan diberikan konsep berbeda dan memiliki tema masing-masing.  

Saat memasuki bangunan ini tamu akan disambut dengan lobi yang bernuansa homy, yang kemudian akan menuntun kita menuju Ruang Diponegoro. Berbentuk dining hall yang sangat luas dengan dua meja jamuan klasik panjang serta meja ukuran empat orang yang mengitari sekitarnya.  

Terdapat lukisan besar The Fall Of Java yang menceritakan kisa penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang pada tahun 1830. 

Di samping Ruang Diponegoro terdapat ruangan dengan bar di sisi samping bernama Suzie Wong Lounge. Dengan poster The World Of Suzie Wong, yang merupakan film di tahun 1950 berlokasi setting di Hong Kong. 
Ruangan ini dihiasi Gebyok Cina, lampu lampion sepanjang ruangan serta lampu temaram yang membuat anda merasa di daerah pecinan saat malam hari. 

Lanjut ke lantai dua, saya memilih menggunakan tangga dibanding lift. Karena sangat antik seperti tangga di Eropa tempo dulu dengan nuansa merah dan hitam. 

Di lantai dua ini yang paling menarik perhatian saya adalah Ruang Soekarno, disambut dengan kliping kumpulan berita kematian dan pemakaman Presiden pertama Indonesia tersebut.  

Berkonsep private dining dengan meja panjang yang megah seperti acara jamuan makan di Eropa. Ruangan dipenuhi dengan memorabilia Presiden Soekarno dan juga lukisan Presiden Soekarno dengan dua orang penari Bali yang menggambarkan kecintaan Presiden Soekarno pada Bali.  

Di mana Bali merupakan tempat lahir Ibu Presiden Soekarno dan Istana Tapak Siring adalah buatannya. Ada aura magis yang sulit saya jelaskan saat Anda memasuki ruangan ini. 

Makanan yang disajikan di sini sangat kaya rasa, dengan menu yang berasal dari Indonesia, peranakan China dan Belanda. Dimulai dari Laksa, Kungpao Crispy Duck, Rundvleis Kleine Aardappelen rendang, Apelflappen dan Poffertjes.  

Rekomendasi saya saat ke sini Anda harus mencoba Nonya Laksa dan Apelflappen. Sesuai dengan apa yang dikatakan Napoleon Bonaparte, bahwa seseorang bisa dinilai dari cara makan dan hidangan yang dimakannya.  

Ungkapan tersebut menggambarkan jamuan makan yang merupakan simbol kemewahan dari status sosial seseorang.

Jadi jamuan makan bukan hanya pengisi perut tetapi menikmati kelezatan makanan, keindahan serta kesenangan dan kebahagiaan saat jamuan makan tersebut.  

Bagaimana dengan kalian para penikmat kuliner? Apabila penasaran silahkan datang ke Tugu Kunstkring Paleis dan rasakan kemewahannya.