Minggu, 07 Januari 2018 16:42 WITA

Citizen Report

Rongkong, Surga di Balik Gunung

Editor: Almaliki
Rongkong, Surga di Balik Gunung
Wisata Rongkong

"Tana Masakke Lipumaraninding" dalam terjemahan bebas bermakna negeri sejuk, aman, damai, dan tentram. Demikian ilustrasi masyarakat adat rongkong memaknai potensi alam salah satu kecamatan dataran tinggi Luwu Utara.

Dengan pacuan kuda besi (Baca; sepeda motor) Kecamatan Rongkong dapat ditempuh 3 jam perjalanan dari Masamba Ibu Kota Kabupaten Luwu Utara. Separuh pertama rute menyusuri jalan mulus aspal, kemudian jalan tanah berbatu di separuh terakhir.

Sepanjang perjalan menyusuri aliran sungai Rongkong dengan suguhan udara sejuk, balutan hutan tropis, dan hamparan sawah perbukitan dengan sistem teras mengepung jajaran desa yang dilalui. Jauh dari polusi yang menjadi teman akrab kepenatan kota yang penuh basa-basi, serta tensi politik di warung kopi.

Menjejaki alam Rongkong yang tersembunyi di balik pegunungan dengan ketinggian 1600 meter di atas permukaan laut, sungguh menjanjikan surga. Rasa lelah segera terbayar tunai oleh sambutan ramah warga dan panorama alam Rongkong, negeri berselimut awan.

Warga Rongkong bersifat agraris dengan mata pencaharian utama bertani dan berkebun. Kondisi lingkungan yang bergunung-gunung membuat sistem pertanian dibuat dalam bentuk sengkedan atau terasering yang bertingkat-tingkat. Pembuatan sawah dilakukan secara bertingkat untuk menyiasati kondisi lahan yang miring di daerah Rongkong. Model sengkedan dibuat menyerupai tangga berundak-undak.

Di Desa Ekowisata Rinding Allo, keagungan Ilahi tersajikan oleh panorama alam yang fantastis. Waktu terasa berhenti. Hamparan sawah dengan liukan pematang tersusun rapi di bawah bukit, sentuhan romantis kabut datang dan pergi, hutan alami lebat dan suasana damai. Tak ada sinyal telekomunikasi mengantarkan kita keluar dari gerbang generasi milenial. Menakjubkan.

Keindahan alam sejalan dengan keramahan masyarakat adat Rongkong. Warga di tujuh Desa se-Kecamatan Rongkong masing-masing Desa Kanandede, Desa Minanga, Desa Pengkendekan, Desa Komba, Desa Rinding Allo, Desa Limbong, dan Desa Marampa menjunjung tinggi falsafah kekerabatan.

"Kami selalu terbuka. Jika daun kayu bisa disulap menjadi manusia, akan kami hidupkan. Sebab orang Rongkong ingin bersahabat". Kata mereka dalam aksen lokal. Sekretaris Camat (sekcam) Rongkong, Pasalongan, turut mengaminkan. 

"Keramahan masyarakat menjadi keseharian Tana Rongkong. Selain itu adat istiadat dan kebudayaan menjadi pijakan dalam memelihara alam dan sisi kemanusian. Sebab itulah modal utama mengangkat tana warisan leluhur," kata putra asli Rongkong ini.

Di sana, adat istiadat dan kebudayaan masih dijunjung tinggi. Tana Rongkong memiliki tiga gelar kehormatan untuk para pemangku adat yaitu Tomakaka, Tosiaja, dan Matua. Sebagian dari mereka menjabat pemangku kepentingan di pemerintahan.

Pijakan adat dikuatkan dengan sumpah adat Rongkong. Tidak boleh ada perjudian, tidak boleh ada pencurian, tidak boleh ada perkelahiaan, dan tidak boleh ada perzinahan. Tradisi menenun juga masih terpelihara, walau hampir punah. Tradisi ini menyisakan Ibu Mawila di Salurante, Desa Rinding Allo. Ia menjadi simbol penjaga  tradisi dan ujung tombak pengetahuan tenun khas Rongkong. 

Motif tenun Rongkong yang cukup dikenal seperti sekong mandi (saling berpegangan tangan) dan sekong sirenden (mencerminkan kebersamaan). Di Rongkong juga dapat dijumpai berbagai situs purbakala serta benda-benda peninggalan sejarah yang penuh histori. Ada Patung Pejuang Rongkong, situs gua kaki puang Rongkong, dan situs Laso Batu. Destinasi yang menyimpan berbagai pengetahuaan masa lampau. 

Ada pula destinasi air terjun, buntu todan serta puncak tabuan Rinding Allo yang mulai dipopulerkan Komunitas Buntu Tabuan Rongkong dan Rumah Panggung Masamba di pelbagai akun media sosial.

Rongkong, Surga di Balik Gunung

Puncak Tabuan

Tana Rongkong memang kaya akan destinasi menggiurkan. Salah satu destinasi yang mulai dieksplor akhir-akhir ini adalah puncak Tabuan. Lewat tangan dingin dan kerjasama apik  komunitas Buntu Tabuan dan Rumah Panggung, puncak tabuan mulai menampakkan wajahnya di depan khalayak. Berseliweran menembus padatnya lalu lintas warganet.

Sentuhan magis bermomodal swadaya komunitas serta support pemerintah Kecamatan dan Desa melahirkan proyek penggarapan puncak Tabuan. Jalur menuju puncak kini diakses lebih enteng. Tanjakan dibuatkan pijakan membentuk tangga galian. Di atas puncak, turut ditata agar melahirkan spot pengambilan foto bagi warganet yang hobi eksis di media sosial.

Bagi pendaki sejati hanya butuh waktu 25 menit treking, sedang pendaki romantis membutuhkan waktu 50 menit untuk mencapai puncak. Melalui 2 pos utama sebagai tempat peristirahan mengatur nafas dan berswafoto ria. Di atas puncak, kita dapat menyaksikan pemandangan desa-desa di rongkong yang dibalut pegunungan Porreo, Tabuan, Tambolang, dan Paramean yang diselimuti awan.

Akram, penggiat "Komunitas Rumah Panggung" berucap pada pagi hari di Puncak tabuan mata kita dimanjakan sunrise (matahari terbit) dan sunset (matahari terbenam) di sore harinya. Pemandangan menggiurkan bagi para petualang dan fotografer profesional, pastinya.

Rongkong, Surga di Balik Gunung

Citizen report: Rival