Senin, 11 Desember 2017 07:45 WITA

Peringatan Tragedi Korban 40.000 Jiwa Tak Lagi Semarak

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Peringatan Tragedi Korban 40.000 Jiwa Tak Lagi Semarak

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Sudah 71 tahun sudah momen bersejarah terjadi di Kota Makassar, dan Sulawesi Selatan. Momen dimana terjadi pembantaian massal sekitar tahun 1946 hingga 1947, yang dikenal dengan "Korban 40.000 Jiwa".

Sulawesi Selatan kala itu bergejolak lantaran Belanda menyatakan Sulawesi dalam keadaan perang dan hukum militer pada 11 Desember 1946. Adalah Raymond Westerling, Komandan pasukan Belanda dengan mengusung misi "Westerling" pembantaian di setiap desa yang ada di Sulsel.

Namun rakyat pada waktu itu engan berdiam diri. Terjadi perlawanan di setiap daerah di Sulsel. Mulai dari Parepare, Pinrang, Endrekang, hingga meluas ke Kendari. Para pejuang pun hanya menggunakan alat seadanya dalam melakukan perlawanan.

Di Makassar, ada nama Emmy Saelan, pejuang srikandi yang gagah berani mengorbankan nyawa demi ibu pertiwi. Kegigihan ia buktikan dengan mati bersama para tentara Belanda setelah melemparkan geranat yang menewaskan dirinya dan lawan.

Bersamaan dengan itu, Raymond bersama para bawahannya yang tersebar di setiap daerah dengan keji membantai penduduk yang tidak berdosa sekitar 40.000 jiwa.

34 tahun kemudian atau tepatnya 1984, pemerintah dan masyarakat Sulsel sepakat menetapkan tanggal 11 Desember sebagai hari berkabu. Tujuannya untuk mengenang hari bersejarah Peristiwa Korban 40.00 jiwa Rakyat Indonesia di Sulsel. 

Peringatan Tragedi Korban 40.000 Jiwa Tak Lagi Semarak

Sehingga untuk memperingatinya, pemerintah sepakat mengibarkan bendera merah putih setengah tiang. Sayangnya, usai melewati masa orde baru, hal tersebut tidak semarak lagi dilakukan.

Konon, dalam beberapa tahun terakhir sangat jarang bendera setengah tiang dikibarkan untuk mengenang Korban 40.000 Jiwa. Baik di kota hingga di desa-desa yang ada di Sulsel. 

Padahal, Presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno mengamanatkan peringatan peristiwa Korban 40.000 Jiwa Rakyat Indonesia di Sulsel, 11 Desember 1996-1997.

"Mereka gugur agar kita hidup".