Minggu, 05 November 2017 19:31 WITA

Sejarah Pelabuhan Paotere Kota Makassar

Editor: Almaliki
Sejarah Pelabuhan Paotere Kota Makassar
Penjual ikan asin di sekitar Pelabuhan Paotere

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Dewasa ini, salah satu tempat pelelangan ikan yang murah sekaligus tempat bersandarmya kapal-kapal kecil di Makassar, dikenal dengan nama Pelabuhan Paotere.

Pelabuhan ini berada di sebelah utara Kota Makassar yang terletak di Kecamatan Ujung Tanah, Makassar, Sulawesi Selatan. Sebagaimana tempat-tempat di Makassar yang memiliki sejarah khasnya masing-masing, Paotere juga menyimpan sejarah besar yang layak kita ketahui.

Lalu seperti apakah dulunya Pelabuhan Paotere sebelum menjadi pelabuhan seperti sekarang? Dikutip dari buku Makassar Doloe, Makassar Kini, Makassar Nanti, yang digagas oleh Yayasan Losari Makassar, Pelabuhan Paotere merupakan pelabuhan andalan yang dimiliki oleh kerajaan Gowa-Tallo pada abad ke 14 sewaktu memberangkatkan konvoi penyerangan sekitar 200 perahu Pinisi ke Malaka.

Selanjutnya, pada abad ke-15, Pelabuhan Paotere sudah terkenal sampai ke luar negeri sebagai salah satu bandar niaga.

Pelabuhan ini juga dikelola secara otonom dan berperan sebagai salah satu pintu gerbang ekspor pengiriman beragam komoditi dari kawasan timur Nusantara ke Mancanegara.

Barang-barang komoditi seperti kopi, damar, beras, serta hasil bumi lainnya, diekspor dengan cap 'Haven Makassar', diangkut di pelabuhan ini oleh perahu Pinisi yang saat itu berukuran tiga kali lebih besar dari ukurannya sekarang.

Namun pada awal abad ke-19, pelabuhan ini ditutup sebagai pelabuhan bebas oleh Belanda yang saat itu menjajah Indonesia. Penutupan ini berakibat timbulnya perang antara pihak Belanda dengan tiga kerajaan besar yang ada di Sulawesi Selatan saat itu, Bone, Gowa, dan Luwu. Perang ini pun mengakibatkan kemasyhuran pelabuhan Paotere perlahan memudar. 

Sejak perang tersebut, pelabuhan ini tidak lagi menjadi pelabuhan terbesar dan hanya sedikit roda perekenomian yang bisa bertahan di tempat ini. Tetapi pada awal abad ke 21, cucu Raja Gowa terakhir, Thamrin Andi Mansyur, menggalakkan peningkatan kualitas kawasan pelabuhan Paotere Makassar.

Sejarah Pelabuhan Paotere Kota Makassar

Ia ingin agar nama pelabuhan Paotere yang pada beberapa abad yang lalu terkenal hingga ke luar negeri kembali. Ia pun menuntut pelabuhan ini diberi hak pengelolaan otonom.

Hingga pada tahun 1991 seperti dilansir dari situs Pusat Informasi Pelabuhan perikanan, Dinas Perikanan dan kelautan Provinsi Sulawesi Selatan bersama Direktorat Jenderal Perikanan, melaksanakan proyek Pengembangan Prasarana Perikanan Tahun Anggaran 1991/1992 untuk pengadaan sarana Pelabuhan Paotere kota Makassar. 

Pelabuhan Paotere pun kembali difungsikan setelah pembangunan fisik yang terlaksana selama 11 bulan, mulai dari bulan Maret 1991 sampai dengan bulan Januari 1992. Sejak saat itu, Pelabuhan Paotere mengalami renovasi hingga menjadi tempat bersandarnya perahu-perahu nelayan kecil dan menjadi tempat penjualan ikan yang sangat ramai.

Ikan-ikan seperti ikan kerapu,cepak, dan ikan baronang, merupakan ikan yang paling sering dijumpai. Ada juga kepiting, udang, dan cumi cumi, di pelabuhan ini. Tak ketinggalan jenis ikan seperti ikan teri, ikan kakap merah, cakalang, dan berbagai ikan asin juga ada di tempat ini.

Sejarah Pelabuhan Paotere Kota Makassar

Tak salah jika pelabuhan Paotere di Kota Makassar menjadi salah satu destinasi wisata yang mulai menjanjikan di Kota Makassar.

Hal lain diungkapkan Daeng Nyalli. Sejak kecil, ayah dengan 4 orang cucu ini, sangat dekat dengan aktivitas di bibir Pelabuhan Paotere. Bahkan setiap sorenya, semasa kecil, dirinya sangat senang bermain air laut bersama kerabat-kerabatnya. 

Daeng Nyalli merupakan anak yang dibesarkan melalui penghidupan orangtuanya yang tidak jauh dari jaring dan mata pancing, setiap pagi, setelah kapal ayahnya berada di bibir pantai. Ia masih ingat betul sosok ayahnya yang begitu tambun, gagah perkasa sedang menyulam jala yang sobek akibat terkaman ikan yang cukup besar di tengah laut Indonesia. 

Penulis Rakyatku.com mencoba mencari tahu mengapa pelabuhan yang ditumbuhi pedagang dari berbagai suku ini disebut dengan Pelabuhan Paotere. Sebelumnya, Daeng Nyalli sempat menyangkal dirinya mengetahui asal-usul pelabuhan tersebut, namun, entah ada angin apa sehingga dirinya begitu ringan menceritakan asal usul pelabuhan tersebut.

"Saya kurang begitu tahu kenapa pelabuhan ini bisa disebut dengan Paotere. Sejak kecil saya sudah mendengar kata itu. Meski saya tidak begitu tahu kapan mulai, tapi menurut cerita orang tua dulu, cerita masyarakat di sini menjelaskan kalau Paotere 'adalah Orang yang pandai merajut tali'," ujar Daeng Nyalli kepada Rakyatku.com, Minggu (15/5/2016). 

Menurut penjelasan Daeng Nyalli, kata Paotere, diambil dari kata pa' yang berarti seseorang atau pembuat. Sedangkan otere yang berarti tali. Maka orang di sekitar sini memanggil pelabuhan tersebut dengan sebutan Paotere yang berarti si pandai merajut tali.

Disebutnya Paotere (si ahli merajut tali) dikarenakan banyaknya pelaut asal Mandar yang singgah untuk menjual hasil tambak lautnya. Seiring dengan seringnya ia berdagang di lokasi tersebut, di situ pula mereka memperbaiki perangkat tambaknya, seperti otere (Tali). 

"Jadi mereka itu sangat pandai sekali membuat tali, banyak penduduk dan nelayan asli disini belajar bersama Pa'otere itu, hingga akhirnya banyak yang datang untuk belajar, di situlah asal muasal sebutan Pa'otere'," tambahnya. 

Setelah memasuki tahun 1970an, lokasi ini sudah mulai diminati banyak nelayan dari berbagai daerah. Berbagi jenis nama kapal hampir dirapalkan oleh penduduk asli daerah pelabuhan, seperti sebutan lete, lambo, pajala, karoro, patorani, dan sandeq yang bersandar di pinggir Pantai. Asal muasal kapal tersebut kebanyakan nelayan dari Parepare, Mandar, Maros, dan Buton. 

Aktivitas nelayan pun semakin padat dan cukup untuk berkonsentrasi pada kegiatan menambak ikan. Kata Dg. Nyalli, Pelabuhan Paotere atau yang dikenal dengan pantai Gusung tersebut, akhirnya membentuk pasara atau pasar yang tidak hanya bertransaksi dari hasil laut, tapi juga pakaian dan kebutuhan rumah tangga lainnya. 

"Jadi Awal ceritanya begitu hingga akhirnya menjadi pasar seperti ini. Bahkan warga Makassar sendiripun tidak ada yang tidak mengetahui tempat pelelangan ikan termurah di Makassar. Penjual ikan yang ada di pasar lainnya, di sini semuaji ambil," ungkapnya. 

Sejarah Pelabuhan Paotere Kota Makassar

Hingga saat ini, sejarah Sulawesi Selatan menyebutkan, Paotere adalah salah satu pelabuhan rakyat warisan tempo dulu yang pernah menjadi penggerak ekonomi Makassar. Aktivitas niaga di sana diperkirakan sudah terjadi sejak abad ke-14, di bawah kendali Kerajaan Gowa-Tallo.

Bahkan beberapa objek wisata Paotere yang masih terjaga adalah masih adanya berbagai kapal tradisional, seperti pinisi, kapal penumpang antarpulau, kapal nelayan jolloro, katinting, karoro, patorani. tidak jarang, mengapa para turis asal luar negeri banyak yang mengabadikan momen sebagai pelabuhan di Indonesia yang masih tradisional. 

Tags