01 October 2017 13:32 WITA

Tradisi 10 Muharram, Uniknya Bubur Asyura di Desa Limapoccoe

Editor: Muh. Taufik
Tradisi 10 Muharram, Uniknya Bubur Asyura di Desa Limapoccoe

RAKYATKU.COM, MAROS. Hari Asyura yang dirayakan sebagian umat Islam setiap tanggal 10 Muharam terasa meriah di Kecamatan Cenrana, Maros, Minggu (1/10/2017)

Di desa Limapoccoe misalnya, sejumlah warga saling membantu untuk membuat bubur asyura di seputar tempat tinggal mereka. 

Nismawati salah satu warga menjelaskan,tradisi makan bubur asyura secara bersama sama itu merupakan peninggalan Sunan Kudus untuk mengajarkan sikap saling berbagi kepada sesama. Tradisi tersebut yang dijaga oleh masyarakat Limapoccoe sebagai salah satu teladan dalam bersikap terhadap sesama.

Bubur berbahan dasar delapan bahan pangan, yaitu beras, jagung, kedelai, ketela, kacang tolo, pisang, kacang hijau dan kacang tanah itu hanya dibuat pada bulan Asyura atau bulan Muharam.

Selain tradisi makan bubur asyura, tentu masih banyak  keistimewaan yang ada dalam bulan Muharram diantaranya. Apas saja keistimewaan tersebut? 

Pertama, bulan Muharam adalah bulan pertama dalam kalender Hijriyah yang artinya merupakan awal yang bagi ummat muslim. Bulan Muharam  termasuk salah satu dari empat bulan yang dijadikan Allah  sebagai bulan haram (QS At-Taubah: 36).

Pada bulan ini disunahkan untuk berpuasa.
Dari Abu Hurairah Radiyallah ‘Anhu, Rasulullah  bersabda, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharam.” (HR. Muslim). Selain itu, pada bulan Muharam  terdapat Hari Asyura’. “Rasulullah SAW menyatakan puasa pada Hari Asyura (10 Muharam) menghapus dosa setahun yang lalu.

Berita Terkait