30 September 2017 08:49 WITA

Fort Rotterdam, Pusat Sejarah Kota Makassar

Editor: Al Khoriah Etiek Nugraha
Fort Rotterdam, Pusat Sejarah Kota Makassar

RAKYATKU.COM - Benteng Rotterdam atau Fort Rotterdam merupakan tempat wisata yang menyimpan banyak cerita tentang sejarah Kota Makassar. Lokasinya tak jauh dari kawasan Pantai Losari, tepatnya di Jalan Ujung Pandang Nomor 1 Makassar.

Benteng ini merupakan salah satu peninggalan sejarah Kerajaan Gowa-Tallo yang dibangun pada tahun 1545 oleh raja ke-9, I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa 'risi' Kallonna. Pada awalnya, benteng ini dibangun dengan menggunakan tanah liat dan putih telur, sampai kemudian bangunan disempurnakan oleh raja ke-14.

Nama awal dari benteng ini adalah "Benteng Ujungpandang", sampai pada saat benteng ini jatuh ke tangan Belanda dan berganti nama menjadi Fort Rotterdam. Nama tersebut menjadi populer sampai sekarang. Pada zaman Belanda, benteng ini digunakan sebagai tempat penyimpanan rempah-rempah hasil rampasan dari Indonesia bagian timur.

Di dalam kompleks benteng, terdapat 13 bangunan. Karena jika dilihat dari atas benteng ini menyerupai penyu, kadang dinamakan Benteng Panynyua (Penyu). Benteng ini mempunyai 5 Bastion, yaitu bangunan yang lebih kokoh dan posisinya lebih tinggi di setiap sudut benteng yang biasanya ditempatkan kanon atau meriam di atasnya.

Salah satu obyek wisata yang terkenal di sini diantaranya Museum La Galigo, yang menyimpan kurang lebih 4.999 koleksi. Diantaranya koleksi prasejarah, numismatic, keramik asing, sejarah, naskah, dan etnografi. Koleksi Etnografi ini terdiri dari berbagai jenis hasil teknologi, kesenian, peralatan hidup dan benda lain yang dibuat dan digunakan oleh suku Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja.

Selain melihat benteng serta museum Lagaligo pengunjung dapat melihat ruang tahanan sempit, yang dipercaya merupakan tempat Pangeran Diponegoro saat dibuang oleh Belanda sejak tertangkap di tanah Jawa. Perang Diponegoro yg berkobar diantara tahun 1825-1830 berakhir dengan dijebaknya Pangeran Diponegoro oleh Belanda saat mengikuti perundingan damai. Pangeran Diponegoro kemudian ditangkap dan dibuang ke Menado, lantas tahun 1834 ia dipindahkan ke Fort Rotterdam. 

Saat ini, selain sebagai tempat wisata bersejarah, benteng ini juga dijadikan sebagai pusat kebudayaan Sulawesi Selatan. Tempat wisata ini buka setiap hari mulai pukul 08:00 wita sampai 18:00 wita. Wisatawan dapat memasuki tempat sejarah ini dengan gratis. Namun, khusus museum, pengunjung dikenakan biaya tiket masuk sebesar Rp7.500 per orang, Museum La Galigo buka setiap Selasa – Minggu, mulai pukul 08:00 wita sampai 12:30 wita