Senin, 18 April 2016 01:04 WITA

Klenteng Xian Ma, Destinasi Wisata Sejarah Perjalanan Budha

Penulis: Andi Dahrul Mahfud Muchtar
Editor: Adil Patawai Anar
Klenteng Xian Ma, Destinasi Wisata Sejarah Perjalanan Budha
Salah satu patung dewa di Klenteng Xian Ma

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Sejak dulu, Makassar merupakan daerah yang dikenal sangat terbuka dan menghormati para pendatang. Hal itu terlihat pada kehidupan sosial antara suku Bugis-Makassar dan Suku Tionghoa, di bagian utara Makassar. Tepatnya di Jalan Sulawesi.  

Nuansa kebudayaan Tionghoa begitu kental di sana, dipertegas lagi aroma dupa dengan bau yang khas disepanjang jalan. Namun berjalan-jalan disana, tak lengkap rasanya jika tak mengunjungi salah satu klenteng dari beberapa klenteng. Salah satunya Kleteng Xian Ma.

Salah satu pengurus Klenteng Xian Ma, Ci' Nelly berkisah, keberadaan klenteng di Makassar sudah sejak lama, saat para pedagang Tionghoa menjejakan kakinya di tanah Bugis-Makassar. Klenteng yang dijuluki Istana Naga Sakti ini berdiri sejak tahun 1864.

Memasuki Klenteng Xian Ma, pengunjung akan disambut oleh Patung  Dewa Namo Maitreya. Lebih dalam lagi, empat patung raja langit dari empat penjuru mata angin, begitu kokoh berdiri.  Ditambah ratusan patung dewa-dewi dengan berbagai latar belakang, memanjakan mata setiap penghujung.

Di lantai 5 Klenteng Xian Ma, anda akan disuguhkan lukisan Budha. Relief itu mengisahkan perjalanan Budha. 

"Maitreya, Budha duduk dan cukup besar yang ada digerbang itu merupakan salah satu budha yang ditunggu-tunggu kehadirannya, itulah kenapa dia berada didepan pintu, dikerenakan sebagai simbol datangnya budha baru didunia kelak," kata Ci'Nelly saat ditemui Rakyatku.com di Klenteng Xian Ma, Minggu (17/04/2016). 

Ci'Nelly mengajak melihat  perjalanan Budha lebih dalam lagi. Wanita berumur 47 tahun itu begitu fase menjelaskan relief  Budha yang sebelumnya bernama Sidharta. 

Loading...

"Kisah Budha Sidharta, dari awal ceritanya, merupakan pangeran dari India, Ibunya yang merupakan seorang ratu bernama Mahamaya bermimpi seekor Gajah Putih, hingga akhirnya melahirkan seorang anak yang bernama Sidharta yang kemudian menjadi seorang Budha kelaknya,” kata Ci’Nelly sambil menunjuk lukisan Budha.

Setelah berada di lantai 5, Nelly menuntun turun ke lantai 4. Ruangan tersebut haya ditujukan untuk biksu. Karena tempat suci, tak sembarangan orang yang masuk. Apalagi untuk umum.  

Aneka patung dewa kembali terlihat di lantai 3. Ci’Nelly kembali menjelaskan mengenai tugas masing-masing dewa itu, seperti dewan hujan, dewa rezeki, dewa jodoh, dewa zodiak. Sementara patung Dewi Kuan Im merupakan patung yang paling digemari pengunjung, mengingat Dewi Kuan In merupakan simbol  keramahan dan kebijaksanaan.

"Dilantai 2 tidak jauh berbeda dengan apa yang ada di lantai 3, semuanya juga patung para dewa, namun disini lebih banyak patung yang pengadilan, yang tugasnya mengadili para manusia yang berbuat jahat ketika hidup di dunia sebelum dihidupkan kembali ke dunia (Reinkarnasi)," katanya. 

Sejak Kelenteng Xian Ma diresmikan oleh Gubernur Sulawesi selatan, Syahrul Yasin Limpo di Tahun 1999, klenten ini sudah menjadi destinasi wisata sejarah.

"Disini kalau hari Sabtu dan Minggu memang cukup ramai, mulai dari orang yang berdoa, study tour, kunjungan kantor-kantor dan sekolah, berbeda dengan hari-hari biasanya, senin sampai jumat, sangat sepi," pungkas Nelly.

Loading...
Loading...