30 April 2017 17:15 WITA

Melihat Panorama Gunung yang Terbelah di Sungai Walennae

Editor: Almaliki
Melihat Panorama Gunung yang Terbelah di Sungai Walennae

RAKYATKU.COM, SOPPENG - Sungai Wallenae merupakan sungai terpanjang di Sulawesi Selatan yang menyambungkan 3 kabupaten yakni Bone, Soppeng, dan Wajo. 

Salah satu hulu sungai yang bisa dijadikan tempat wisata berada di Desa Soga, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng. Jaraknya kurang lebih 60 kilometer dari Kota Soppeng. Di hulu sungai ini, kita bisa melihat sebuah pemandangan yang indah saat menyusuri hulu sungai.

Dengan menggunakan rakit yang bisa disewa sebesar Rp100 ribu, kita sudah bisa mengakses berbagai spot andalan di hulu sungai tersebut. Bagi yang tak biasa menggunakan rakit, tenang saja, pemilik rakit siap menemani para pengunjung. Satu rakit maksimal bisa menampung dua orang, namun bisa dimodifikasi dengan mengikat dua buah rakit, sehingga kapasitasnya pun bertambah.

Salah satu yang menjadi spot andalan para wisatawan adalah sebuah gunung yang membentang di kiri dan kanan sungai. Diketahui, kedua gunung itu bernama Gunung Mandulang dan Gunung Pacari.

Konon kedua gunung ini dulunya bersatu, namun karena ingin agar arus Wallenae bisa lewat, mereka membelah diri, sehingga terciptalah pemandangan menakjubkan tersebut.

Tak hanya wisatawan lokal, wisatawan asing pun sudah beberapa kali menjajaki tempat ini. "Hampir setiap tahun wisatawan asing berkunjung di sini. Pernah datang wisatawan Finlandia dan Jepang," ujar salah seorang tokoh masyarakat, Wawan.

Selain menikmati suasana alam sekitar. Salah satu yang menjadi daya tarik tempat ini adalah keseruan menggunakan rakit saat menyusuri berbagai spot di sepanjang sungai. Namun bagi yang tidak tahu berenang, disarankan untuk membawa pelampung, dikarenakan kedalam sungai yang mencapai 70 meter.

Bagi para pengunjung yang hendak ke tempat ini juga disarankan datang pada saat musim kemarau, sebab saat itu, kondisi air sangat jernih dan arusnya juga tengah tenang.

Untuk bisa mengakses tempat ini, pengunjung bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun empat, dan ditambah dengan berjalan kaki sepanjang 1 kilomenter melalui kebun bambu.