Minggu, 26 Maret 2017 12:15 WITA

Keroncongan? Roti Beras Bugis Bisa Jadi Solusi

Penulis: Darwis Pantong
Editor: Almaliki
Keroncongan? Roti Beras Bugis Bisa Jadi Solusi

RAKYATKU.COM, SIDRAP - Salah satu penganan khas Bugis Sidrap yang hingga kini masih tetap digemari sebagai kudapan favorit, khususnya di pagi hari, adalah roti werre (roti beras).

Kue yang berbahan dasar tepung beras dan pisang ini, lazim juga disebut warga di Sidrap dengan nama roti pamuttu (roti wajan) atau roti otti (roti pisang).

Eksistensi roti beras ini sudah ada sejak puluhan tahun lampau, dan sampai kini masih tetap diproduksi secara rumahan oleh sejumlah warga di berbagai tempat di Kabupaten Sidrap.

Bukan hanya di pelosok desa dan dusun, kini roti beras juga diproduksi di kota-kota kecamatan dan sejumlah kelurahan di Sidrap. Salah satunya di Pasar Sentral Pangkajene.

Pembuatan roti beras dapat dijumpai di beberapa lokasi di pasar induk Kabupaten Sidrap ini. Sejumlah pembuat roti beras yang ada, umumnya mangkal di pinggir jalan raya di sisi sebelah selatan Pasar Pangkajene.

Rasanya yang legit dan dapat mengenyangkan perut, membuat kue ini diburu banyak orang. "Kami biasanya kewalahan melayani pembeli. Mereka antre untuk mendapatkan roti ini, karena pembuatannya sedikit lama," ujar Maryam, salah seorang produsen roti beras, Minggu (26/3/2017).

Dia membeberkan, cara pembuatan roti ini menggunakan beberapa peralatan seperti wajan, penutup tungku, sudep, dan perlengkapan lainnya.

Loading...

Maryam menyebutkan, pembuatan roti tersebut diawali dengan memanaskan palekko di atas bara api yang memiliki suhu tertentu. Kemudian adonan tepung beras dan pisang yang sudah dihancurkan dan 
dicampur bersama gula, garam, dan potas dimasukkan ke dalam wajan panas. 

"Setelah itu, adonan dalam wajan yang berbentuk lingkaran dengan ukuran tertentu tersebut ditutup menggunakan palekko yang sudah panas. Kemudian ditunggu beberapa saat baru bisa diangkat," terang Maryam kepada Rakyatku.com.

Menurut wanita paruh baya ini, setiap hari dia mampu memproduksi 150 hingga 200 lembar roti beras dan semuanya laku terjual. "Itu saja masih kadang ada orang yang kehabisan. Tapi, hanya itu kemampuan kami membuatnya, karena pembuatannya juga memakan banyak waktu dan 
tenaga," imbuh Maryam.

Padahal, bukan hanya perempuan dua anak itu yang menggeluti pembuatan roti beras ini di Pangkajene Sidrap. Sejumlah produsen kue serupa mudah kita jumpai di beberapa lokasi di daerah itu, baik yang di pinggir jalan maupun yang diproduksi secara industri rumahan.
 
Selain dikonsumsi langsung sambil minum kopi atau teh, roti beras yang memiliki kekhasan tertentu ini dapat dinikmati dengan mencelupkannya ke dalam larutan gula merah, atau dimakan bersama masakan kari kambing atau kari ayam. 

Satu lagi, roti beras ini paling enak disantap saat masih hangat dan baru keluar dari wajan.

Tags
Loading...
Loading...