Sabtu, 16 April 2016 20:48 WITA

Mencicipi Kambing-kambing Pottele di Jalan Sabutung

Editor: Mulyadi Abdillah
Mencicipi Kambing-kambing Pottele di Jalan Sabutung

GORENGAN khas Makassar ini, mungkin rasanya biasa-biasa saja. Namun dengan namanya, orang dibuat bertanya-tanya.

Adalah Kambing-kambing Pottele nama gorengan ini. Sejenis bakwan, terbuat dari bahan tepung terigu bercampur daun bawang. Dalam bahasa Indonesia, pottele' artinya pelacur. Betulkah ada hubungan makanan ini dengan pelacuran?

Penulis menyambangi area jajanan gorengan berwarna coklat kekuning-kuningan berukuran kecil itu, Senin (14/3/2016) malam. Letaknya di Jalan Sabutung dan sangat mudah didapat.

Karena hujan rintik semalaman banyak pengendara yang memadati jalanan Sabutung yang kecil, cukup satu arah. Hampir seluruh pengendara menepi untuk memboyong kambing-kambing.

Banyak pula perempuan muda dengan pupur tebal dan berpakaian minim juga lelaki beranting juga bertindik dengan rambut pirang datang membeli serta hanya berlalu lalang jalan kaki melewati warung-warung tersebut.

Di sepanjang jajaran warung kambing-kambing tak ada penanda nama warung. Keroncongan, penulis pun menyinggahi satu warung kecil untuk mengaso-- cukup untuk duduk lima orang.

Warung itu milik sepasang suami-istri dengan satu anak lelaki yang dikepalai Colleng B. Berdiri sejak 2014 silam.

Colleng lalu menyuguhi penulis sepiring kambing-kambing dengan porsi Rp 5 ribu. Sebelum mengunyah, ada tiga sambel yang ditawarinya yakni sambel merah, kuning, dan tumis.

"Tidak ada nama warung di sini. Sepanjang jalan, kita tinggal pilih saja yang mana mau disinggahi untuk beli kambing-kambing," papar Colleng, membelakangi kalender calon gubernur Sulawesi Selatan.

Senyampang istri Colleng, Sarinah sibuk menggoreng Kambing-kambing memenuhi permintaan pembeli yang sekadar membungkus jajanan buatannya.

"Jarang orang duduk makan. Kalau parkir, pasti macet. Jalanan kecil. Sabtu malam bisa ramai, karena banyak pembeli membungkus," tutur Colleng.

"Kami buka dari jam 6 sore. Sampai jam 4 shubuh. Itu makanya makanan ini dijuluki kambing-kambing pottele." Tidur pagi hari dan bangun petang pun jadi biasa.

Dijelasi Colleng kambing-kambing pottele diawali oleh julukan dari masyarakat atau pemuda Sabutung. Bukan karena daerah pelacuran.

"Sudah sering orang mengira kalau ini daerah lokalisasi. Saya bilang, pemuda sekitar yang menamai jajanan ini pottele karena dijual sampai shubuh," sergah Sarinah sembari tertawa kecil.

Lanjut Sarinah, warungnya bukanlah yang pertama. Masih ada yang lebih dulu-- yang telah menjadi maskot sabutung. Menjadi pioner sejak tahun 90-an. Warung itu terletak di pertigaan Sabutung.

Soal hasil, sekisar Rp 700 ribu per hari omzet yang dikantongi. Ia menjual setiap hari. Tak kenal hari libur. Karenanya, Colleng sekeluarga tak pernah mengeluh. Rezekinya dirasa sudah cukup.

"Modalnya cuma terigu 25 kilogram, vetsin dan, garam juga minyak goreng jerigen berisi 20 liter yang bisa dipakai hingga tiga hari," tutupnya.

Loading...