Sabtu, 16 April 2016 20:37 WITA

Cerita Masjid Katangka; Akulturasi Budaya dalam 1 Bangunan

Penulis: Andi Dahrul Mahfud Muchtar
Editor: Vkar Sammana
Cerita Masjid Katangka; Akulturasi Budaya dalam 1 Bangunan
FOTO: DAHRUL/RAKYATKU.COM

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Pada Akhir abad ke 16, penyebaran agama islam akhirnya menyentuh kalangan istana yang ada di Makassar, secara otomatis pula menjadi salah satu kerajaan maritim terbesar di Indonesia bagian timur, yang mana para pemimpin atau raja-rajanya bergelar sultan. 

Mesjid tua Katangka contohnya yang sampai saat ini berdiri dan terawat sebagai peninggalan sejarah kerajaan Gowa. Hal tersebut diungkapkan oleh H. Maddatuang (64), Ketua Pengurus Mesjid Katangka ketika disambangi dikediamannya Jl Palattikang No.122 Kec. Sombaopu Kab.Gowa Sulsel. 

Ketika Rakyatku.com mendatangi kediamannya, Maddatuang nampak sedang melakukan kegiatan bersih-bersih halaman, selain itu ia juga mengatur tumpukan sendal yang berserakan di teras rumahnya. 

Maddatuang, merupakan seorang tokoh yang dipercaya menyimpan berbagai berkas sejarah Mesjid Tua Katangka. Ia juga merupakan salah satu keturunan Qodhi (hakim pemutus perkara) saat kerajaan itu.

Menurut penuturannya, masa kejayaan kerajaan Islam Makassar terjadi di masa Sultan Alauddin, selain membangun kekuatan militer dan perekonomian yang kuat, Raja islam pertama di kerajaan Gowa-Tallo ini juga membangun pusat-pusat pendidikan agama islam, salah satunya mesjid. 

"Jadi sejarahnya, Datuk Ribandang, Datuk Ditiro, dan Datuk Ditimang ingin melakukan shalat jumat. Mereka bertiga menghadap raja gowa untuk melakukan shalat jumat, setelah menghadap, ia diberi tempat di Katangka yang juga merupakan area kekuasaan Raja Gowa. setelah melakukan shalat, ketiga Datuk ini menghadap kembali kepada Raja agar lokasi yang menjadi tempatnya melakukan shalat jumat diwakafkan untuk dibangun sebuah mesjid, itu asal muasalnya," Ujar Maddatuang kepada Rakyatku.com. Sabtu (16/04/2016). 

Dipanggil dengan sebutan Mesjid katangka, hal itu tidak jauh dari lokasinya yang sangat rindang, dan dipadati oleh pohon Katangka yang menjulang tinggi, oleh karena itu, Mesjid ini menjadi salah satu kesukaan Raja ketika melakukan shalat, meski saat itu di Benteng Somba Opu juga memiliki mesjid saat sebelum dijajah oleh belanda.   

"Tidak ada yang berubah mengenai posisinya. Selain itu, menurut kepercayaan warga sekitar bahwa awal dibangunnya mesjid ini juga menggunakan kayu yang berasal dari pohon katangka, itu bisa kita lihat dibagian plavonnya yang terpasang kuat sebagai penyangga atap mesjid,"tambahnya. 

Loading...

Saat ini mesjid katangka sudah memasuki 412 tahun, artinya rumah ibadah ini sudah berumur 4 abad lebih dan sudah mengalami 6 kali renovasi, yakni pertama pada tahun 1816 atau pada masa kerajaan gowa yang ke 30 yang bernama Sultan Abdul Rauf yang juga merupakan salah satu keturunan Raja Gowa. 

"Pemugaran pertama itu pada tahun 1816, yang kedua 1884 oleh Sultan abdul kadir, kemudian pemugaran ke 3 pada tahun 1963 dilakukan oleh gubernur sulawesi selatan, dan pemugaran ke 4 tahun 1978 yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan Makassar, pada tahun 1980 dilakukan pemugaran oleh swada pembinaan cagar budaya, serta pemugaran ke 6 dilakukan pada tahun 2006-2007 oleh pemerintah dan pengurus mesjid katangka," imbuhnya. 

Jika dilihat dari bangunanya, Mesjid ini memiliki pergabungan 4 Kultur yang menjadi identitas rumah ibadah bagi ummat muslim, dilihat dari arsitektur bangunanya, dilihat dari Mimbar yang terfokus pada nuansa Tiongkok, serta atapnya yang memiliki bentuk eropa, serta ukiran Kaligrafi arab yang terpampang di dinding yang merupakan kultur dari Timur tengah, dan yang terakhir, Budaya Makassar.

"Mesjid ini memiliki 4 akulturasi budaya yang tercampur di dalamnya, ini menandakan bahwa masyarakat kita dahulu itu sangat terbuka oleh bangsa-bangsa lain, serta latar belakang bangsa dan agama lainnya," ungkap Maddatuang kepada rakyatku.com. 

Ia juga menambahkan bahwa mesjid ini memiliki pesan simbolik, "makna simboliknya itu dilihat dari 5 pintu yang menandakan rukun islam, kemudian ada 6 jendela yang berarti rukun iman, kemudian 4 tiang penyangga yang berda didalam  mesjid itu merupakan 5 sahabat nabi yang paling dekat, kemudian atapnya bersusun 2 itu menandakan 2 kalimat syahadat, serta pada ujung mengerucut pada atapnya yang berarti Allah Swt itu esa," pungkasnya. 

Selain fungsinya sebagai mesjid, dilokasi itu juga terdapat makam Raja Gowa-Tallo yang sering menjadi kunjungan wisata bagi anak sekolah dihari libur. dan tidak lepas juga sebagai sarana tempat belajar mengajar agama, seperti mengaji. 

Loading...
Loading...