23 August 2016 08:36 WITA

Menikmati Indahnya Matahari Tebenam dari Puncak Bulu Saraung

Editor: Jumardin Akas
Menikmati Indahnya Matahari Tebenam dari Puncak Bulu Saraung
Keindahan matahari terbenam di Bulu Saraung

RAKYATKU.COM – Meras penat dengan padatnya rutinitas yang dilakukan setiap hari? Tidak ada salahnya Anda melakukan perjalanan singkat yang bisa merefresh kembali ketegangan otak.

Menjadi bagian dari Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Gunung Bulu Saraung (1.353 Mdpl) berada di desa Tompo Bulu kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Tempat yang satu ini selalu mejadi salah satu pilihan untuk melakukan pendakian, baik yang sekadar ingin mencoba atau mereka yang hobi mendaki.

Karena mudah diakses, tempat ini juga menawarkan indahnya pemandangan saat mata hari terbit (Sunrise) dan mata hari terbenam (Sunset). Selain itu, di gunung ini para pengunjung tidak perlu maragunan komunikasi telepon. Untuk keperluan menelpon tetap bisa dilakukan saat berada di gunung ini. Bahkan jaringan internet lancar jika tidak sedang kabut, terutama di puncak gunung.

Di atas puncak Bulu Saraung terlihat jelas pegunungan kars yang merupa pegunungan tersebesar kedua di dunia (Maros) yang bisa disaksikan pada siang hari. Dari puncak gunung ini pula dapat dilihat Kabupaten Pangkep dan Maros. Pada malam hari dapat dinikmati indahnya lampu kota dari kejauhan.

Untuk mengakses tempat ini tidak membutuhkan waktu berhari hari, dua hari waktu yang cukup jika ingin menikmati pemandangan di gunung ini. Bahkan ada juga pendaki yang bisa melakukan pendakian di gunung ini hanya dalam sehari (pulang-pergi).

Dari kota Makassar perjalanan dapat ditempuh menuju kota Pankep (poros Makassar-Pare) dengan menggunakan roda dua selama dua jam perjalanan. Setelah samapi di Pangkep, perjalanan dilanjukan dengan keluar dari jalan poros dengan mengambil arah kanan menuju ke pabrik Semen Tonasa.    

Dari persimpangan jalan poros Makassar-Pare (Tonasa) menuju desa Tompo Bulu, desa terkhir sebelum ke gunung Bulu Saraung dapat ditempuh dengan waktu satu jam dengan medan yang bervariasi (aspal dan pengerasan) dengan didominasi oleh tanjakan.

Di desa Tompo Bulu, pengunjung yang akan mendaki di Bulu Saraung melakukan registrasi dimana telah ada petugas dari pemuda setempat untuk melakukan pendataan terhadap para pendaki dan barang bawaannya yang menghasilkan sampah. Setiap pendaki dikenakan biaya pendakian Rp7000/orang dan parkiran kendaraan roda dua Rp3000/kendaraan.

Setiap bungkusan makanan ataupun minuman yang dibawa saat mendaki, akan dicatat satu persatu oleh petugas. Bekas (Sampah) makanan atau minuman harus dibawa turun dari pendakian.

“Barang bawaan yang menghasilkan sampah juga didata supaya bisa dibawa turun, kalau ada yang tinggal di gunung menjadi sampah pendaki akan didenda 1000 rupiah,” ungkap Sayamsuar (37), Kelompok Pengelola Eko ‎Wisata Dentong yang bertugas melakukan pendataan para pendaki saat ditemui beberapa hari lalu.

Registrasi dilakukan di kantor desa Tompo Bulu yang yang berhadapan dengan rumah mantan kepala desa H Muh Jabir (Tempat parkir motor). Titik star (tracking) tak jauh dari kantor desa.

Dari Desa Tompo Bulu perjalana ke pos 9 (tempat camp) dapat ditempuh semala 2,5 hingga 3 jam perjalanan. Trac menanjak akan menyambut perjalanan hingga ke pos 4 setelah itu, landai dan kembali akan menanjak.

Pos 9 merupakan tempat camp sebelum naik ke puncak, para pendaki camp di pos 9 karena di puncak tidak memungkinkan, tidak ada tempat camp. Perjalan dari pos 9 ke puncak  dapat ditempuh selama 15 menit. Pada pendaki biasanya naik di puncak pada sore atau pagi hari untuk menyaksikan sunset ataupun sunrise.

Dari keterangan Sayamsuar, pendaki yang datang di Bulu Saraung, bukan hanya pendaki lokal, pendaki dari luar negeri juga kerap datang di gunung tersebut. Setiap hari, gunung Bulu Saraung didatangi pendaki namun para pendaki akan ramai berkunjung pada hari Sabtu dan Minggu.

“Ada juga pendaki dari luar negeri, setiap hari ada yang datang tapi yang ramai hari Sabtu dan Minggu,” ungkapnya.