Sabtu, 23 April 2016 20:42 WITA

Melongok Museum I La Galigo di Benteng Fort Rotterdam

Penulis: Andi Dahrul Mahfud Muchtar
Editor: Mulyadi Abdillah
Melongok Museum I La Galigo di Benteng Fort Rotterdam

SULAWESI Selatan merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki cukup banyak warisan budaya yang terbingkai rapi di museum sejarah. Salah satunya, kekayaan budaya yang tersimpan di Museum La Galigo di Benteng Fort Rotterdam Makassar. 

Nama La Galigo diambil dari nama karya sastra klasik bugis. Konon, karya sastra ini terpanjang di dunia. Di museum ini, bisa dikata menyimpan banyak koleksi warisan budaya kerajaan-kerajaan serta alat tradisional yang dipakai pada zaman itu. 

"Di museum ini kita bisa lihat berbagai banyak cerita singkat mengenai La Galigo yang merupakan keturunan raja langit menurut kisahnya," ujar Rizki Amelia, salah satu petugas museum kepada Rakyatku.com, Sabtu (23/04/2016).

Diceritakan, dahulu kala orang Bugis memiliki kepercayaan tentang keberadaan dewa-dewi yang mendiami tiga dimensi yang berbeda. Pada dimensi pertama ditempati oleh Botting Langi' (Kerajaan Langit atau Dunia atas). Kedua, Buri' Liu' (Kerajaan Bawah Laut) atau biasa juga disebut dengan Parettiwi' (Dunia Bawah). Ketiga, yang berada ditengah keduanya, yakni Ale' Kowa' (Bumi yang kita tempati). 

Ia juga menceritakan kutipan dalam naskah “Mula Tau” yang menceritakan bahwa Patottoe atau Dewa Tertinggi yang bertahta di Boting Langi' mempunyai saudara perempuan bernama Sinau' Toja yakni dewi di Perettiwi (Dunia Bawah). 

Rizki Amelia pun menceritakan seputar lahirnya Sawerigading, ayah I Lagaligo. 

Mulanya, Sinau' Toja menikah dengan Guru Ri Selle' dari tempat yang sama yakni Parettiwi (Dunia Bawah). Sementara Guru Ri Selleq juga mempunyai saudara perempuan bernama Datu Palinge. Datu Palinge inilah yang menjadi istri Patotoe (Dunia atas). 

Melongok Museum I La Galigo di Benteng Fort Rotterdam

Perkawinan Patotoe dengan Datu Palinge melahirkan beberapa orang anak. Salah satunya bernama La Toge' Langi' yang bergelar Batara Guru yang selanjutnya diutus ke bumi untuk menjadi penguasa disana. 

Kemudian menikahi sepupunya dari Parettiwi bernama We Nyili' Timo', dimana selanjutnya dari We Nyili' Timo' lahirlah Batara Lattu', ayah Sawerigading. Ialah yang kemudian menjadi ayah I La Galigo dalam ceritanya. 

Penulis juga berkeliling melihat aneka lukisan dan barang peninggalan pra-sejarah pada lantai dasar dan dua. 

Pada lantai dasarnya, kita bisa jumpai berbagai lukisan atau gambar yang bercerita tentang awal mulanya Sawerigading dilahirkan serta beberapa tokoh yang menjadi petuah di langit, sedangkan pada lantai kedua, terdapat beberapa peninggalan rumah tangga, serta pakaian. 

"Pada lantai dasar, kita bisa liat secara langsung gambar yang menceritakan kisah turunnya manusia langit, dalam ceritanya Datu Patoto memanggil ke-9 anaknya dan melakukan musyawarah. Dari ke-9 anak itu cuman ada satu yang terpilih turun ke bumi yang masih kosong sebagi To Manurung (Batara Guru yang terpilih dari ke 9 anak tersebut)," urainya.

Selain cerita asal muasal I Laga Ligo, jejak-jejak peradaban Sulsel sejak masa pemerintahan kerajaan juga bisa ditemui di sini. Dengan berbagai jenis baju tradisional, ayunan bayi, tempat memandikan bayi bangsawan dan kainnya, guci tempat simpan ari-ari, serta ada juga tungku Mammiccu (tungku meludah setelah mengunyah sirih). 

"Di ruangan sebelah juga merupakan Museum La galigo, disana menyimpan banyak koleksi peninggalan masyarakat dulu juga. Diantaranya ada alat pertanian tradisional dan alat untuk melaut seperti Rakkala (alat bajak), Lesung (tempat menumbuk padi), bingkung (cangkul), Salaga (alat mengatur bongkahan tanah di sawah), parang, sabit, dan lainnya,"ungkapnya. 

Ada juga koleksi rumah adat masyarakat Sulawesi selatan, Saoraja (Bugis), Balla Lompoa (Makassar), Tongkonan (Toraja) dan lain-lain.

Koleksi lainnya berupa alat kebutuhan rumah tangga yang sudah terbilag sangat lama. Memasuki Museum La Galigo, anda cukup merogoh kantong sebesar 3 ribu sampai 10 ribu rupiah per orangnya. 

"Kalau orang dewasa, 5 ribu rupiah, anak-anak 3 ribu, dan turis 10 ribu rupiah," tambahnya. 

Dengan mendatangi lokasi bersejarah ini, Anda akan merasa bangga serta kagum dengan keunggulan budaya Sulawesi pada masa lalu. Itu terlihat lokasi ini sangat ramai ketika menjelang hari libur, yakni pada hari sabtu dan minggu, yang mana bukan warga lokal saja yang mengunjunginya, namun adapula warga asing yang menyempatkan belajar seputar sejarah Sulawesi Selatan.

Loading...
Loading...

Berita Terkait