Jumat, 14 Desember 2018 05:27 WITA

Sejarah Peradaban Islam di Cina

Editor: Adil Patawai Anar
Sejarah Peradaban Islam di Cina

RAKYATKU.COM - Sa'ad Ibn Abi Waqqas yang diutus Khalifah Utsman bin Affan menemui penguasa dinasti Tang. Setelah penguasa Dinasti Tang membolehkan penyebaran agama Islam, ia menetap di Guangzhou dan membangun Masjid Huaisheng.

Kemampuannya dalam bidang arsitektur diperolehnya saat masih berada di Madinah. Ia menambahkan sebuah Iwan ruangan lengkung, seperti milik kaisar Persia, sebagai tempat ibadah. Bangunan yang juga disebut Masjid Agung Guangzhou ini dikenal sebagai masjid pertama di Cina.

Arsitektur masjid itu merupakan perpaduan arsitektur Cina dan Islam. Masjid yang dibangun untuk mengenang Nabi Muhammad ini dikenal pula sebagai Masjid Guangta.

Pembangunan masjid ini merupakan tonggak penting dalam sejarah Islam di Cina.

Ini merupakan masjid tertua yang bertahan di seluruh Cina dan berusia lebih dari 1.300 tahun. Masjid ini masih tetap tegak berdiri di Guangzhou modern, setelah diperbaiki dan direnovasi.

Jejak lainnya dari peradaban Islam di Cina adalah Da Qingzhen Si atau Masjid Agung Chang'an, sekarang bernama Xi'an, di Provinsi Shaanxi. Masjid ini didirikan pada 742 Masehi. Ini merupakan masjid awal terbesar dan terbaik di Cina, dengan ukuran 12 ribu meter persegi.

Masjid ini dibangun saat pemerintahan Dinasti Ming pada 1392, seabad sebelum jatuhnya Granada. Sejumlah catatan menyatakan, pendirinya adalah Zheng He. Di dalam masjid itu, terdapat tablet batu untuk mengingat dukungannya atas pembangunan masjid tersebut.

Model masjid ini, dengan keindahan dan dinding yang mengelilinginya, paviliun dan halaman masjid yang indah bisa dilihat di Hong Kong Museum. Saat berjalan memasuki ruang shalat, simbol naga terukir pada lantai tangga masuk.

Tersebut pula, Sheng-You Si atau Mosque of the Holy Friend, dikenal pula dengan nama Qingjing Si atau Mosque of Purity dan Al-Sahabah Mosque, dibangun dengan granit murni pada 1009 Masehi selama pemerintahan Dinasti Song (960-1127).

Rancangan arsitektur dan gaya masjid ini meniru Masjid Agung Damaskus, Suriah. Di Cina, ada Masjid Qingjing yang terletak di Madinat al-Zaytun, Quanzhou. Dikenal pula, dengan Kota Zaitun. Menurut tradisi Arab atau Islam, zaitun merupakan simbol perdamaian.

Masjid ini berada di Provinsi Fujian, yang di sana juga terdapat makam dua sahabat Nabi Muhammad, yang mendampingi Sa'd ibn Abi Waqqash. Namun, kedua sahabat tersebut lebih dikenal dengan nama Cinanya, yaitu Sa-Ke-Zu dan Wu-Ku-Su.

Selain itu, ada Zhen-Jiao Si atau Mosque of the True Religion, yang juga dikenal dengan Feng-Huang Si di Hangzhou, Provinsi Zhejiang. Diyakini, masjid ini dibangun pada saat pemerintahan Dinasti Tang. Masjid ini memiliki menara dan tempat mengamati bulan.

Masjid ini memiliki sejarah panjang. Masjid dibangun kembali dan direnovasi berulang-ulang dalam beberapa abad. Masjid ini bertambah kecil dibandingkan bangunannya semula karena adanya proyek pelebaran jalan pada 1929.

Sedangkan masjid lainnya, terletak di Kota Yangzhou, Provinsi Jiangsu. Suatu masa, wilayah ini menjadi kota perdagangan dan ekonomi yang sangat sibuk, terutama pada masa Dinasti Song (960-1280). Masjid Xian-He Su merupakan masjid tertua dan terbesar di kota itu.

Masjid itu dibangun pada 1275 oleh Pu-ha-din, seorang juru dakwah, yang diyakini sebagai keturunan ke-16 Nabi Muhammad. Menurut Anthony Garnaut, pakar interaksi budaya Cina dan Islam, penaklukan Mongol atas sebagian besar Eurasia, membaurkan budaya Cina dan Islam.

Sumber: Republika

Tags