Senin, 03 Desember 2018 21:15 WITA

CITIZEN REPORT

Surga Tersembunyi di Kaki Bawakaraeng

Editor: Aswad Syam
Surga Tersembunyi di Kaki Bawakaraeng
Tenda-tenda para pendaki di pinggir Danau Tanralili.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Minggu, 2 Desember 2018. Pagi itu, embun baru saja turun di Danau Tanralili. Butir-butir beningnya terlihat menjuntai di ujung dedaunan, juga rerumputan. 

Dingin yang menusuk-nusuk hingga ke sumsum tulang, cocok disandingkan dengan kehangatan segelas kopi, mungkin juga teh. Menyeruputnya sambil menikmati pemandangan sekeliling, hmmm...serasa di surga.

Di sini, di Danau Tanralili, airnya memantulkan puncak Gunung Bawakaraeng. Juga deretan tenda-tenda berwarna warni di sekeliling danau, menambah indah wajah danau yang terbentuk 2003 lalu itu.

Suasana yang tenang, memanjakan mata para pencinta alam. Cocok jadi pelarian bagi mereka yang ingin menata hati.

Bagi petualang pemula. Tempat ini cocok, karena jalur ke lokasi yang tidak terlalu ekstrem. Jika para petualang pemula ingin ke sana, kita harus melalui jalan poros Malino dan melalui Bili-bili, lalu masuk ke Desa Parigi.

Sampai di sana, silakan beristirahat sejenak di rumah warga, sambil melakukan registrasi. Biaya registrasi tak membuat kantong cekak. Cuma Rp5000 per orang.

Usai rehat sejenak, bisa melanjutkan perjalanan pendakian. Ada banyak pendaki yang akan kita temui di sana. Warga desa pun sudah tidak asing lagi, jika ada pendaki yang datang ke rumahnya. Kendaraan juga bisa dititip di rumah warga di sana.

Saat memulai pendakian, kita akan melalui jalan setapak. Perjalanan menuju danau ini, ditempuh kurang lebih 3-4 jam berjalan kaki melalui tebing-tebing yang curam. Namun, melihat keindahan di jalan, akan membuat pendaki semakin bersemangat untuk bisa sampai di Danau Tanralili.

Danau Tanralili terbentuk 2003 lalu, saat terjadi longsoran yang kemudian membentuk cekungan, yang dialiri air dan terwujudlah danau.

Untuk ke sini cukup bermodalkan etika, dengan mematuhi segala peraturan yang ada, demi kelestarian alam di sekitar Danau Tanralili.

Penulis: Poppy Dayana (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unismuh Makassar)