Jumat, 22 April 2016 10:19 WITA

Ini Asal Muasal ' Jumat Keramat ' di Indonesia

Editor: Wiwi Amaluddin
Ini Asal Muasal ' Jumat Keramat ' di Indonesia

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Mitos Hari  atau Jum’at Wage, bagi masyarakat khususnya di Jawa yang masih kental dengan adat dan budaya semisal, Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia menyebut keramat di ponorogo. Ini diambil berdasarkan cerita Kerajaan majapahit yang berkuasa di daerah Ponorogo setelah mengalahkan serangan Ki Ageng Kutu ( Penguasa daerah kademangan kutu atau suru kubeng sebelum  direbut Majapahat).


Kademangan Suru Kubeng diangkat berdasarkan mitos masyarakat Jawa. Konon, pada istana kademangan terdapat pohon suruh yang mengelilingi istana bahasa jawanya “suruh mubeng”. Sekarang  Pohon suruh itu  masih ada, tepatnya di belakang SDN Kutu Kulon, Ponogoro.

Dengan kekuasaan Ki Ageng Kutu (penguasa ponogoro sebelum Majapahit) berupaya untuk memperkuat basis di Ponorogo. Namun,  Majapahit yang merupakan salah satu Kerajaan di Jawa, merasa bahwa upaya yang dilakukan KI Ageng adalah ancaman. Dimana, Ancaman itu juga dirasakan oleh Kesultanan Demak, yang bagian nota banenya penerus kejayaan Majapahit.

Olehnya, Raden Patah, Raja pertama demak langsung menugasi adiknya Lembu Kanigoro atau Batorokatong untuk menaklukan Wengker yang merupakan cikal bakal Kabupaten Ponogoro.  Raden Patah menyuruh kedua adiknya membabad tanah bundar yang serupa batok itu, berlokasi di antara sebelah timur gunung lawu dan sebelah barat gunung wilis. 

Perintah Raden Patah diketahui oleh Ki Ageng Kutu (Penguasa daerah Suru Kubeng; baca diatas) . Bersama prajuritnya dan dibantu Warok Hongolono, Ki Ageng menyerang Batorokatong (Kerajaan Demak) ketika sedang melaksanakan ibadah sholat Jum’at. Penyerangan itu melumpuhkan pasukan Batorokatong. Namun,  Barokatong kembali bangkit setelah dibantu Kiyai Mirah, dan berhasil membuat Ki Ageng Mundur. 

Olehnya, dari perseteruan itu, yang menurut masyarakat Jawa jatuh di jum’at wage. Sehingga, bagi masyarakat ponorogo terutama kaum abangan ponorogo,  dan masyarakat di Pulau Jawa, mengenal hari Jumat naas bagi mereka. Sehingga di keramatkan. 

Begitulah kontradiksi pemahaman malam Jum’at dan hari Jum’at menurut mitos klenik yang hanya menghasilkan kengerian berbau mistis dibandingkan dengan pemahaman menurut ajaran Islam yang justru menghasilkan pahala dan kebaikan. 

Loading...
Loading...

Berita Terkait