Minggu, 05 Agustus 2018 21:43 WITA

Citizen Repor

Selain Alam, Tombolo Pao Gowa Tawarkan Wisata Literasi

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Selain Alam, Tombolo Pao Gowa Tawarkan Wisata Literasi

Tombolo Pao merupakan salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Gowa. Kecamatan yang dapat diakses menggunakan kendaraan dengan waktu tempuh kurang lebih tiga hingga empat jam ini menawarkan pemandangan alam pegunungan. Secara umum, Kecamatan Tombolo Pao terdapat di kawasan yang strategis dengan background Gunung Bawakaraeng, di sebelah selatan dan Gunung Bohonglangi di sebelah utara.

Kawasan ini juga ditunjang oleh potensi alam pertanian yang menjadi sektor utama penghasilan daerah. Berbagai komoditas sayuran dan buah tumbuh subur. Seperti kentang, wortel, cabai, kol, tomat, daun bawang, buah markisa dan lainnya. Sehingga sejauh mata memandang, kita akan disuguhi pemandangan hijau pegunungan dan lahan pertanian warga. Sebagian besar warga memang berprofesi sebagai petani. Bahkan, banyak warga memanfaatkan pekarangan dan halaman belakang rumah untuk ditanami sayuran.

Selain dikenal sebagai kawasan yang memiliki suhu udara yang dingin dan sejuk, Kecamatan Tombolo Pao yang memiliki delapan desa dan satu kelurahan ini juga dikenal sebagai daerah wisata alam. Salah satunya dengan keberadaan air terjun eksotik seperti air terjun Bantimurung, Lange-langeang dan Kaloro Larang.

Bahkan kawasan wisata Tombolo Pao sejatinya juga ditunjang oleh sektor pertanian itu sendiri. Salah satunya komoditi buah Markisa. Jenis buah yang khas dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Bahkan sudah ada beberapa masyarakat setempat yang membuka usaha kebun markisa hingga pengelolaan buah markisa menjadi olahan makanan atau minuman sebagai oleh-oleh khas dari Kecamatan Tombolo Pao.

Di samping wisata alam, Kecamatan Tombolo Pao rupanya juga menawarkan wisata literasi. Hal ini dapat dilihat oleh  hadirnya rumah-rumah baca hingga komunitas-komunitas yang bergerak dalam menyuarakan pentingnya melek literasi sebagai upaya meningkatkan kesadaran pendidikan hingga memerangi buta aksara dan rendahnya minat baca ataupun menulis yang mampu menjadi faktor  runtuhnya peradaban sebuah daerah.

Pertama, Cafe Baca Cahya Medina yang terletak di Dusun Parangbobbo Desa Tonasa. Diprakarsai oleh Irfan Anshari, Cafe baca ini menawarkan suasana membaca seperti berada di rumah sendiri yaitu dengan memanfaatkan teras rumah. Dari teras tersebut kita juga dapat menikmati pekarangan rumah yang luas yang tumbuh banyak pohon cemara dan berbagai jenis bunga. Serta taman yang cantik dengan beberapa bangku yang disediakan. Suasana desa menjadi kian terasa terlebih saat kabut turun di sore hari atau pada saat hujan.

Selain sebagai tempat membaca dan diskusi bagi siapa saja, Cafe baca yang dirintis sejak 2011 lalu ini menawarkan beberapa kegiatan edukasi utamanya bagi anak-anak, pelajar, dan pemuda setempat. Antara lain program menyapa alam seperti menanam pohon hingga bersih-bersih sungai bekerja sama dengan organisasi pecinta alam dan komunitas-komunitas, program sedekah buku Cafe Baca Cahya Medina untuk lembaga-lembaga pendidikan yang ada di pelosok Tombolo Pao, hingga Ahad Bermakna yaitu program pembelajaran umum untuk anak-anak.

Wisata literasi selanjutnya berada di area yang berbukit di Dusun Bahoturungan, Desa Mamampang, yaitu perpustakan pondok ilmu. Mulai dirintis sejak dua tahun yang lalu oleh pemuda bernama Hilman dengan memanfaatkan rumah pribadinya tepatnya di bagian ruang tamu. Ratusan buku tersusun rapi dalam beberapa rak yang tersimpan di sana.

Membaca di perpustakaan pondok ilmu juga tetap menawarkan suasana desa yang asri dan tenang. Di sekitar perpustakaan terdapat area perkebunan yang hijau. Bahkan ke depannya, sembari terus mengumpulkan dana, area perkebunan tersebutlah yang akan disulap menjadi perpustakaan sehingga memberikan kesan berbeda dalam membaca buku yaitu seperti wisata buku.

Tujuan utama didirikannya perpustakaan tersebut adalah untuk meningkatkan minat baca utamanya di kalangan pemuda Dusun Bahoturungan. Kegiatan lain yang dilaksanakan di perpustakaan ini adalah diskusi dan bedah buku. Bahkan ditargetkan akan lahir karya kepenulisan yang merupakan karya dari pemuda setempat.

Selain Alam, Tombolo Pao Gowa Tawarkan Wisata LiterasiSelanjutnya rumah koran di Dusun Bontolebang Desa Kanreapia. Berdiri sejak 2014, rumah koran hadir membawa tagline gerakan cerdas anak petani. Yaitu untuk mewadahi anak-anak petani setempat untuk menyadari pentingnya pendidikan. Mengingat angka putus sekolah masih sangat tinggi di kawasan ini. Rumah Koran yang didirikan oleh Jamaluddin Daeng Abu ini juga mewadahi anak-anak yang putus sekolah agar bisa kembali mendapatkan akses pendidikan di lembaga formal.

Rumah Koran memanfaatkan halaman belakang rumah yang dulunya merupakan kandang bebek. Di sekitarnya tumbuh subur berbagai macam sayuran dari lahan pertanian warga sehingga berada di rumah koran juga memberikan kesan sejuk dan tenang.

Gerakan literasi di atas hanyalah beberapa dari sekian banyaknya semangat untuk mewujudkan budaya membaca, menulis, ataupun diskusi dalam meraih cita-cita mencerdasakan kehidupan bangsa. Juga sebagai upaya mewujudkan Tombolo Pao menjadi kawasan yang berkarakter literasi.

Penulis: Sri Wahyuningsih JS, (Mahasiswa jurusan Jurnalistik UIN Alauddin Makassar).